Pematangsiantar, Boa Boa News
Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdako Subrata Nata Lumbantobing SSTP MSP, membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Early Warning System (EWS) Cik Laila Kota Pematangsiantar, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Jalan H Adam Malik, Selasa (7/7-2026).
Cik Laila merupakan singkatan dari Cek Informasi Kebutuhan Pengendalian Inflasi Terintegrasi.
Wesly diwakili Subrata Nata menyampaikan, stabilitas harga bahan pokok merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.
Kenaikan harga yang tidak terkendali, lanjutnya, tidak hanya menurunkan daya beli masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan angka kemiskinan, mengganggu aktivitas ekonomi, serta mempengaruhi stabilitas sosial. Oleh karena itu, pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan hanya ketika harga sudah mengalami lonjakan.
Selain itu, sebut dia lagi, EWS yang dibangun hendaknya mampu menjadi media informasi yang bermanfaat, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi masyarakat dan pelaku usaha. Sehingga tercipta transparansi informasi harga serta meningkatnya kepercayaan publik terhadap kebijakan pengendalian inflasi daerah.
Sebelumnya, Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar Ahmadi Rahman mengatakan, untuk memerkuat sinergi, pengendalian inflasi Kota Pematangsiantar melalui pemanfaatan data, sistem peringatan dini, dan protokol respons kebijakan yang lebih cepat dan terkoordinasi.
Ahmadi menerangkan, inflasi Kota Pematangsiantar pada periode terakhir tercatat mengalami deflasi sebesar -0,07% (mtm), terutama dipengaruhi oleh base effect dari tingginya inflasi pada bulan sebelumnya.
“Ke depan, penguatan EWS diharapkan tidak hanya menjadi alat monitoring, tetapi juga menjadi dasar pelaksanaan operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, sidak pasar, dan komunikasi publik,” terangnya.
Sebagai narasumber,
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Rulianda Purnomo Wibowo SP MEc. (gar)




