Pematang Siantar BoaBoaNews
Civitas Campus, sejak dulu sudah ada yang nyeleneh, yang menyimpang, yang bertujuan ganda, bahkan bertujuan multimanfaat.
KAMPUS bukan lagi melulu untuk cari Ilmu, namun sudah banyak yang bertujuan multi guna, sementara yang murni ingin nuntut ilmu terpaksa urut dada karena turut tercemar akibat ulah para petualang yang hanya mencari sensasi sekaligus melepas hasrat.
Pematang Siantar , kota kedua terbesar di Sumatera Utara, yang di tahun Tujuhpuluhan dan-Delapan puluhan dijuluki, Kota Pelajar, kini tercoreng dengan maraknya berbagai kejahatan yang memberinya julukan busuk, seperti Kota Narkoba, akibat tingginya peredaran Narkoba.
Belum reda julukan Kota Narkoba kini muncul julukan baru, di kota ini ditengarai banyak kampus yang dihuni Dosen dan Mahasiswa yang doyan sex.
Tahun kemaren kasus sexual menyimpang ini merebak di sebuah Kampus yang dikelola oleh Yayasan Agama yang mengusung nama besar Pemuka Agama zaman penjajahan.
Tahun lalu merebak kasus Dosen yang bobok-bobok enak dengan Mahasiswi. Kasus ini mencuat ketika si Mahasiswi nyanyi di medsos, lalu sekampus bernuansa Agama ini menjadi heboh.
Lalu pihak Rektorat turun mengusut, selidik punya selidik, ternyata Dosen yang baru menduda itu tergoda Mahasiswi yang sudah punya jam terbang tinggi di layanan esek-esek.
Awalnya si Dosen yang lugu ini, tak sadar di jebak si Mahasiswi, ketika si Dosen menjadi Pembimbing Skripsi, awalnya si Dosen tidak punya niat namun karena di Mhs_i, ‘membuka’ peluang, di Dosen mulai terpancing, Mhs_i yang memang punya ‘kelainan’ memuluskan cara, maka si Dosen ‘terjebak dan terperangkap’ di paha si Mhs_i.
Singkat cerita, Skripsi pun ‘Rampung’ dinyatakan lulus, entah aji mumpung, si Mhs_i melancarkan serangan baru, dia meminta sejumlah uang, jika tidak kasus akan segera dibeberkan, maka si Dosen yang yang ‘kehabisan kamus’ terpaksa merogoh kantong lalu transfer ke No.Rek si Mhs_i. Cukup? belum, merasa gampang cari duit, si Mhs_i, tekan lagi, si Dosen Meradang dan akhirnya menyeruak ke Publik.
Rektorat pun turun gunung,viasus di usut, disimpulkan, transaksi sexual, ada bukti pembayaran, si Mhs_i pun out tanpa wisuda, Izazah udah ditangan, semoga jangan jadikan guru esek-esek.
Belum hilang dari ingatan, cuma berselang tidak banyak bulan, walau kalender sudah berganti kan sah esek-esek di kampus yang sama kembali menyeruak.
Kampus tua yang baru mandiri itu kembali dibuat heboh, masih soal esek-esek Dosen-Mhs_i, kali ini ada bedanya a, walau modusnya mirip.
Persamaannya masih di wilayah Skripsi, antara Dosen Pembimbing dengan Mhs_u semester akhir, yang ingin mengakhiri studi, jika yang antar Dosen SS dengan Mhs_i LT, kini antara Dosen RP dengan Mhs_i TR.
Sang dosen yang katanya bersifat lembut memulai bimbingannya dengan ‘memandang yang lembut-lembut, lalu pandangan mulai naik ke otak, lalu turun ke tindakan.
Akalnya dimulai dengan memberi bimbingan bukan lagi di kampus.Azas manfaat diawali dengan mengajak ngopi di Cafe. Mhs_i yang pengen skripsinya cepat tuntas, meng’ia’kan, lalu ‘bimbingan’ mulai berlangsung. Beberapa Cafe sudah disinggahi, ‘Bimbingan’ mulai meningkat, awalnya cuma di Cafe meningkat di Kamar Hotel.
Ajakan ke Hotel ini, seharusnya langsung ditolak si Mhs_i, namun ‘entah’ dengan alasan apa si Mhs_i nunut. Awalnya diajak ke Hotel B di Jl Gereja, namun setiba di halaman Hotel B, sang Dosen berobah pikiran, dengan alasan kurang kondusif, Dosen RP membelok ke Jl. Jawa, di Hotel Red Doors inilah, sang dosen menindak lanjuti ‘Bimbingan’ nya.
Bila bimbingan di Cafe, hanya sebatas ‘Rayu’an maka di Hotel RedDoors, tangan pun mulai turut Merayu.Sesuai si fat sang dosen yang lembut, tangannya mulai meraba yang lembut-lembut. Saat itulah, kelembutan seorang Mhs_i, berakhir.
Si Mhs_i, berinisial TR ini menunjukkan ketidak lembutannya, TP menepis elusan lembut si RP dengan kasar dan langsung turun ke Resepsionis menelepon Dosen lain yang masih se Komunitas.
RP kalang kabut lalu melarikan diri, meninggalkan TR di Hotel, yang akhirnya dijemput Dosen Dr A Simamora, yang mengantar TR ke Kampus dan melaporkan si Pembimbing, baik ke Rektor maupun ke APH.
Kini TR menyesali dirinya yang begitu saja mau di ajak-ajak ‘Pembimbing’nya ke Cafe dan Hotel, sudahlah Uang kantongnya terkuras, hampir pula di ‘kadal’i sang Dosen.
Tetapi TR tetap bersyukur tidak sempat dinodai si Pembimbing. Kini kasusnya sudah ditangan APH, namun Citra Kampus ber TRADE MARK keagamaan ini sudah tercoreng.
Anehnya cerita Kampus-Kampus dengan Dosa Dosen yang menggagahi Mhs/i bukan lagi cerita baru, bahkan cerita Mahasiswa/i yang nyambi jadi Gigolo dan Simpanan Bu Dos maupun Pak Dos, juga sudah lama beredar, namun di kota kecil kayak Siantar, cerita begini masih tetap menjadi topik yang hanya, apalagi di kampus satu Indonesia yang dikelola satu lembaga Agama terkenal di Sumatera Utara.
Yayasan maupun Rektorat, harus bertindak tegas mengusir Dosen dan Mahasiswa/i yang merusak citra kampus, dan harus membangun sebuah system yang bisa mencium ‘gerakan’ yang bisa meremuk redamkan nama besar Yayasan dan Kampus, ujar beberapa Dosen di beberapa PT yang ada di Siantar, dan beberapa Advokat di sebuah kedai kopi di pusat kota Siantar.
Editor: Oktavianus Rumahorbo
Sumber: DR AS ; DR SS ; JH MPd ; Ch MH




